Minggu, 06 November 2011

tugas bahasa indonesia: analisis cerpen


KECANTIKAN MENAWAN BERBALUT KESEDIHAN
DALAM CERPEN SUI SIEN KARYA SUNLIE THOMAS ALEXANDER
A. Pengantar
Secara pandangan orang awam, judul cerpen tersebut akan membawa kita pada bayang-bayang daratan negeri Cina dengan segala kebudayaan khasnya. Dan memang bayang-bayang tersebut tidak salah-walaupun berasal dari orang awam-karena cerpen ini berlatar pada sebuah kota Bagan di daratan Cina, yang dikisahkan adalah sebuah kota yang diramaikan dengan para penjual teh Oolong (teh hijau yang hanya menggunakan tiga pucuk termuda daun teh dan hanya mengalami setengah fermentasi sehingga ketika diseduh warnanya kuning keemasan) di pinggir jalan kota.
Jika kita baca lebih jauh, kita akan mendapati kenyataan bahwa tidak hanya judul saja yang menunjukkan bahwa cerpen ini berlatar tempat di Cina, tetapi juga sangat terlihat dari latar budaya yang ada, seperti perayaan Cap Go Me setiap tanggal 15 Cia Gwee, membakar hio di kelenteng Yan Sing Tua dan Kuan Ti, dll.
Tema kecantikan seorang gadis menjadi salah satu hal yang ditonjolkan dalam cerpen ini. Semua gadis memang punya kecantikan. Tak usah terkejut kalau ada orang melahirkan rasa hatinya pada anda, sedangkan anda merasakan tidak ada yang istimewa dalam diri anda. Begitulah hebat dan misterinya kehidupan. Ukuran manusia tentang kecantikan dan ketampanan memang tidak pernah sama. Ada orang mabuk dengan seseorang sedangkan menurut pandangan orang lain, wajah semacam itu tidak patut dimabuk-mabukkan. Suara hati memang sukar dibaca. Tidak ada alat yang pasti untuk mengukur makna cantik atau tampan pada seseorang. Ukuran cantik atau tampan ini senantiasa berlainan antara seseorang dengan seorang yang lain. Oleh karena itu, mungkin saja ada wanita di kampung kita yang kita rasakan lebih cantik daripada para model yang popular. Sebab apa? Sebab persepsi kecantikan tidak pernah (atau jarang) sama di antara manusia.
Ada orang yang menganggap hidung yang sedikit mancung sebagai cantik, ada yang tidak. Ada orang yang menganggap rambut yang terurai akan tampak cantik, ada orang menganggap rambut yang ditutup sebagai kecantikan yang memisteri. Ada orang yang menganggap putih merona itu sebagai salah satu tolak ukur cantiknya seorang wanita, tapi ada juga orang yang suka wanita berkulit hitam.
Begitu pula dalam cerpen karya Sunlie ini. Dengan gayanya sendiri, Sunlie berhasil membangun sebuah perspektif kecantikan yang diwujudkan dalam tokoh yang bernama Sui Sien, yang mungkin saja dalam perspektif kita bukan seperti itulah yang dimaksud dengan kecantikan. Jika anda telah membaca cerpennya, silahkan anda berkhayal sebebas-bebasnya mengenai kecantikan seorang gadis karena mungkin perspektif anda berbeda dengan pengarang.
Hal lain yang juga sangat ditonjolkan dalam cerpen ini kisah penderitaan yang dialami Sui Sien. Dia mempunyai masa lalu yang menyedihkan, yang membuatnya tetap mempertahankan api dendam sampai akhir hayat hidupnya. Masa lalu yang menyedihkan ini sangat mempengaruhi hidupnya, sehingga digambarkan juga bahwa si cantik ini bagai amoy di abad silam. Berbalut keanggunan yang klasik sekaligus kesedihan absolut yang menawan hati.
Berdasarkan latar belakang tersebut, kajian cerpen ini akan berpusat pada hal-hal berikut:
1. Bagaimana pandangan sang pengarang tentang kecantikan wanita dalam cerpen ini?
2. Bagaimanakah cara pengarang menonjolkan kisah sedih dalam cerita ini?
B. Pembahasan
    1. Pandangan pengarang mengenai kecantikan.
Kriteria pertama dari ciri-ciri cantik menurut pengarang  yang saya temui adalah senyumnya yang manis dan menawan. Bahkan pengarang menggambarkan senyum Sui Sien bagaikan manekin-manekin cantik di pajangan etalase toko.
Manekin adalah patung tiruan manusia dan sering kita temui di pusat-pusat perbelanjaan pakaian. Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah mengapa manekin? Mungkin karena manekin adalah patung tiruan manusia yang dibuat sebisa mungkin sempurna, bahkan kadang melebihi sang pembuatnya. Ukuran setiap manekin yang saya temui sebagai peraga di toko-toko selalu proporsional. Panjang dan besar betisnya bagai model-model yang sering difoto-foto setiap memakai busana tertentu. Lingkar dada atau pinggul pun dibuat menyerupai model-yang mana sebagai tolak ukur kecantikan secara umum. Selain bertubuh proporsional, manekin-manekin ini selalu tersenyum dalam melaksanakan tugasnya sebagai penarik minat pengunjung. Tidak salah jika pengarang menggambarkan Sui Sien sebagai manekin cantik. Dalam cerpen ini dikisahkan, senyum Sui Sien dalam melayani pengunjung sangat menarik. Dengan senyumnya ini, fungsinya sebagai manekin sangat sempurna. Kedai teh dimana ia bekerja selalu ramai. Simaklah cuplikan berikut:
Tak perlu berkendi-kendi arak, kau membuat orang-orang menjadi teler, setengah sinting memujamu dengan lagu-lagu murahan tak tentu irama, dengan pantun-pantun ngawur yang tak nyambung. Cukuplah dengan secangkir teh saja, yang kau hantarkan dengan sebaris senyum.”
Kecantikan Sui Sien juga ditampilkan pengarang dalam fisik. Tersurat dengan jelas bahwa Sui Sien memiliki bokong yang kencang, yang selalu berusaha dipegang oleh pelanggan-pelanggannya. Namun dengan santainya Sui Sien menepis tangan-tangan jahil dan membalas rayuan-rayuan gombal dengan sebaris senyumnya yang mistik.
Rambut Sui Sien digambarkan selalu meruapkan aroma gaharu. Perlu diketahui bahwa gaharu adalah bahan aromatik termahal di dunia. Serbuk gaharu sebagai dupa akan dibakar langsung dalam ritual keagamaan. Baik Hindu, Budha, Konghucu, Thao, Shinto, Islam dan Katolik. Kayu gaharu disebut sebagai kayu para dewa. Aroma gaharu karenanya dipercaya mampu menyucikan altar dan peralatan peribadatan lainnya.
Dupa gaharu dimanfaatkan untuk mengharumkan ruangan, rambut dan pakaian para bangsawan. Aroma gaharu digunakan sebagai aromaterapi di spa-spa kelas atas.  Selain untuk ritual keagamaan, parfum dan kosmetik, produk gaharu juga sering dikaitkan dengan hal-hal yang berbau mistik. Baik pemanfaatannya, terlebih lagi proses pencariannya dari alam. Pengambilan gaharu dari hutan, memang selalu dilakukan secara tradisional, dengan berbagai ritual dan kebiasaan setempat. Pencarian gaharu di lokasi sulit, harus menggunakan pesawat terbang atau helikopter. Beberapa kali pesawat terbang dan heli pencari gaharu, hilang di hutan belantara di Kalimantan, hingga memperkuat kesan mistis produk gaharu.
Terkait dengan kemistikan (atau mungkin keagamaan), dalam cerpen ini Sui Sien mengaku keturunan Dewa Ong Yah Kong. Maka setiap tanggal 15 Cia Gwee, ketika orang-orang merayakan Cap Go Me dengan Liong dan Barong, Sui Sien selalu bersedia membakar berbungkus-bungkus hio di kelenteng Yan Sing Tua dan Kuan Ti.
Gambaran lain mengenai kecantikan Sui Sien tampak pada tangannya yang halus. Lebih jauh lagi, kecantikan menurut pengarang ini tampak sempurna pada tubuh Sui Sien yang mulus kuning langsat. Kecantikan yang membuat lelaki tak urung melirik dengan mata kucing yang lapar.
    2. Pandangan pengarang mengenai kesedihan wanita.
Sebagaimana yang telah saya tulis sebelumnya, Sui Sien digambarkan bagai  amoy di abad silam. Amoy adalah sebutan bagi gadis cantik Tionghoa yang belum menikah dan biasanya hidupnya penuh penderitaan. Saya rasa pengandaian ini bukanlah mengada-ada. Dalam kisahnya, Sui Sien memang seorang yang cantik-seperti yang sudah dijabarkan di atas-dan memiliki kisah hidup yang menyedihkan.
Di awal lantunan kisahnya, Sui Sien segera digambarkan memiliki hujan yang selalu berkejaran di sepasang mata beningnya. Ya, dia selalu merasa sedih, dan melampiaskannya dengan tangis. Dia tak merasa bahagia walaupun dengan segala kecantikannya ia dapat menyihir lelaki manapun, termasuk para bangliau (pembuat dan pemilik kapal, biasanya adalah lelaki yang kaya raya) yang mampir di kedai tehnya.
Banyak yang berprasangka buruk terhadapnya, terutama para pemilik warung malam saingan, bahwa Sui Sien memakai susuk. “Kalau hanya menjual kecantikan, gadis-gadis kami tak kalah!", tukas mereka dengan sinis. Bahkan ada yang secara terang-terangan menghinanya dengan perempuan lacur perayu lelaki. Namun seperti kesejukan teh Oolong, dia hanya mengangguk dengan senyum. Menelan segala gunjing dan cerca mentah-mentah. Bukan lantaran kuat bertabah, tetapi diri telah lama berbetah.
Bukan gunjingan, cacian, prasangka buruk yang telah menjadikannya bersedih hati dan meneteskan air mata. Mungkin hal itu memang mengganggu, tapi tak sampai membuatnya sangat bersedih dan pantas dipersamakan dengan amoy abad silam. Lalu kesedihan macam apa yang ingin dikisahkan pengarang?
Suatu ketika tokoh aku dalam cerpen ini ‘menyewa’ Sui Sien semalam. Atas dasar informasi dari Ko Bun-lelaki penjaga kedai teh-dengan lima ratus ribu dia dapat menjajal tubuh kuning langsat mulus beraroma gaharu itu. Setelah seperempat malam meniadakan jarak, saat itulah Sui Sien menceritakan kisah hidupnya dan mungkin inilah kesedihan yang sesungguhnya, yang membuat tema kesedihan dalam cerpen ini sangat menonjol.
Dia dendam. Tubuhnya membara oleh api dendam. Api yang dinyalakan oleh orang yang seharusnya ia panggil papa karena telah menikahi ibunya. Papanya adalah seorang bangliau, yang tertarik dengan ibunya karena kecantikannya. Namun Sui Sien merasa jijik memanggilnya papa karena laki-laki itu telah meninggallkan ibunya, pergi mengadu nasib ke Macao, negeri surga para penjudi, tanpa ada kabar apalagi kembali ke pangkuan ibunya.
Hanya itukah kesedihan yang diceritakan? Tidak. Ada sedikit kisah cinta yang diselipkan disini, tapi menurut saya kisah yang diceritakan sangat sedikit ini justru sukses membawakan tema kesedihan.
Sebelum ayahnya pergi, kehidupan Sui Sien sangat menyedihkan. Keadaan ini berlanjut, sampai dia bertemu dengan seorang pemuda. Sulai namanya, seorang awak kapal papanya yang berasal dari Tanah Deli. Pertemuan pertama yang sangat indah, karena Sui Sien yang menyukai pantun dan mereka saling berbalas pantun. Kisah cintalah yang selannjutnya terjalin, bahkan disebutkan bahwa Sui Sien kerap bermimpi menjadi perempuan yang berkarib dengan tungku (menjadi istri).
Kisah yang beegitu indah ini lenyap ketika koran lokal memberitakan seorang awak kapal hangus dalam kapal penangkap ikan di Laut Cina Selatan. Kejadian yang membakar hangus kekasihnya ini tergantung tanpa ujung sampai sekarang. Padahal dia tahu benar kalau Sulai adalah pemuda yang pandai berenang. Namun kenapa semua awak kapal dapat selamat tanpa cacat dengan terjun ke laut, selain kekasihnya yang tertinggal menjadi arang?
Lelaki ubanan yang seharusnya ia panggil papa, bangliau pemilik kapal-kapal penangkap ikan itu hanya berujar dengan santun dan tersenyum pada wartawan: “Saya kira ini murni kecelakaan. Akibat kecerobohan anak buah saya sendiri". Beberapa awak kapal pun memberi kesaksian: “ Kami tak tahu apa-apa yang terjadi. Tahu-tahu terdengar ledakan dari kamar mesin. Kemudian baru kami sadari kalau Sulai tidak bersama kami. Kami tak sempat lagi mencarinya karena api merambat begitu cepat."
Terang saja hal ini membuat Sui Sien menangis histeris. Hujan selalu berkejaran di matanya. Dengan air matanya yang berlinang, dia tahu ada yang salah dalam peristiwa itu, tapi tak kuasa melakukan apapun.
Kisah cinta yang berujung kematian memang sangat efektif menciptakan nuansa kesedihan. Bahkan dalam Titanic, tokoh laki-laki pun meninggal. Di akhir kisah cinta ini, Sui Sien bunuh diri dengan cara masuk ke dalam tongkang kertas yang dibakar pada tanggal 15 Cia Gwee. Sepertinya ia ingin merasakan api, agar sama seperti kematian kekasihnya.

C. Kesimpulan
1. Cerpen ini berisikan pandangan pengarang mengenai kecantikan seorang gadis, yaitu berambut indah dan beraroma gaharu, kulit kuning langsat mulus, senyum yang menawan, fisik yang seksi dan wangi.
2. Kisah cinta dan dendam dalam cerpen ini mampu menciptakan nuansa kesedihan yang menonjol.
3. Kisah yang ada dalam cerpen ini adalah cerminan realita sosial masyarakat nelayan yang pada umumnya kehidupan perekonomian dikuasai oleh pemilik kapal.
D. Referensi
http://foragri.blogsome.com/gaharu-aromatik-termahal-di-dunia/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar